Apa Itu Influenza dan Mengapa Vaksinasi Dipertimbangkan?

Apa Itu Influenza dan Mengapa Vaksinasi Dipertimbangkan?

Influenza sering dianggap sebagai “flu biasa”. Padahal, pada sebagian orang, infeksi ini dapat menyebabkan demam tinggi, nyeri otot hebat, batuk, hingga kelelahan berat yang mengganggu aktivitas. 

Artinya, pada kelompok tertentu, influenza bukan sekadar infeksi ringan, tetapi dapat memicu komplikasi seperti pneumonia atau memperburuk penyakit jantung dan paru yang sudah ada.

Dilansir dari Jama Network, influenza adalah infeksi saluran napas akibat virus influenza yang dapat menyebabkan komplikasi pada kelompok berisiko.

Di Indonesia, kasus influenza cenderung meningkat saat musim pancaroba dan periode curah hujan tinggi, ketika penularan lebih mudah terjadi.

Bagi individu dengan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan jantung, risiko komplikasi dapat menjadi lebih besar dibandingkan orang dengan kondisi kesehatan stabil.

Vaksin influenza membantu tubuh membentuk perlindungan terhadap jenis virus yang diperkirakan beredar pada musim tertentu.

Keputusan untuk menerima vaksin influenza sebaiknya disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, dan situasi masing-masing. 

Artikel ini membantu Anda memahami siapa yang umumnya dianjurkan menerima vaksin influenza dan siapa yang sebaiknya menunda atau berkonsultasi terlebih dahulu.

Siapa yang Dianjurkan Vaksin Influenza?

Secara medis, vaksin influenza dianjurkan untuk individu berusia 6 bulan ke atas, terutama mereka yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.

1. Lansia (usia ≥60 tahun)

Seiring bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh mengalami penurunan fungsi. Lansia juga lebih sering memiliki komorbid seperti penyakit jantung, hipertensi, atau diabetes. 

Pada kelompok ini, influenza tidak hanya menyebabkan gejala infeksi, tetapi dapat memicu perburukan kondisi kronis yang sudah ada.

2. Individu dengan Penyakit Kronis

Termasuk di dalamnya:

  • Diabetes melitus
  • Penyakit jantung
  • Penyakit paru kronis (asma, PPOK)
  • Penyakit ginjal kronis
  • Gangguan hati

Pada kondisi tersebut, infeksi influenza dapat meningkatkan risiko rawat inap dan komplikasi serius karena tubuh memiliki kemampuan cadangan untuk melawan stres infeksi yang lebih terbatas.

3. Ibu Hamil

Dilansir dari National Library of Medicine, perubahan sistem imun dan sistem pernapasan selama kehamilan membuat ibu hamil lebih rentan mengalami komplikasi influenza. Vaksinasi influenza selama kehamilan juga membantu memberikan perlindungan awal bagi bayi setelah lahir.

4. Tenaga Kesehatan dan Individu dengan Paparan Tinggi

Orang yang bekerja di fasilitas kesehatan, sekolah, atau lingkungan dengan interaksi publik intens memiliki risiko paparan lebih tinggi. Vaksinasi influenza membantu mengurangi risiko penularan kepada kelompok rentan.

5. Anak Usia 6 Bulan – 5 Tahun

Pada anak kecil, sistem imun belum sepenuhnya matang. Influenza dapat menyebabkan demam tinggi, kejang demam, atau komplikasi saluran napas bawah.

Di Indonesia, mengingat pola mobilitas tinggi di kota besar dan perubahan cuaca ekstrem saat pancaroba, vaksinasi influenza tahunan menjadi pertimbangan rasional terutama bagi kelompok di atas. 

Pada individu yang sering bepergian ke luar negeri, vaksin influenza juga termasuk dalam daftar vaksin yang direkomendasikan sebelum perjalanan internasional

Secara umum, jenis vaksin influenza yang diberikan akan disesuaikan dengan risiko dan situasi kesehatan di negara tujuan.

Jika Anda termasuk dalam salah satu kelompok di atas, vaksinasi influenza umumnya menjadi langkah pencegahan yang perlu dipertimbangkan secara serius.

Siapa yang Perlu Menunda atau Berkonsultasi Terlebih Dahulu?

Tidak semua orang harus langsung menerima vaksin influenza saat datang ke fasilitas kesehatan. Beberapa kondisi memerlukan evaluasi terlebih dahulu.

Menunda bukan berarti menolak, tetapi memastikan vaksin diberikan pada waktu yang paling aman.

1. Sedang Mengalami Demam atau Infeksi Akut Sedang–Berat

Apabila seseorang sedang mengalami demam tinggi atau infeksi aktif yang cukup berat, vaksinasi influenza biasanya ditunda sampai kondisi membaik. 

Hal ini bertujuan agar respons imun optimal dan untuk menghindari kesulitan membedakan efek samping vaksin dengan gejala penyakit yang sedang berlangsung.

2. Riwayat Reaksi Alergi Berat terhadap Vaksin Influenza Sebelumnya

Individu dengan riwayat reaksi anafilaksis setelah vaksin influenza perlu evaluasi khusus. Dokter akan menilai jenis reaksi yang terjadi dan menentukan apakah vaksin masih dapat diberikan dengan pengawasan ketat atau perlu alternatif lain.

3. Riwayat Guillain-Barré Syndrome (GBS) dalam Waktu Dekat setelah Vaksin Sebelumnya

Pada kasus tertentu, dokter akan melakukan penilaian risiko dan manfaat sebelum memutuskan vaksinasi ulang.

4. Bayi di Bawah 6 Bulan

Kelompok usia ini belum direkomendasikan menerima vaksin influenza. Perlindungan biasanya diperoleh secara tidak langsung melalui vaksinasi ibu hamil dan lingkungan sekitar.

5. Kondisi Imunokompromais atau Terapi Imunosupresif

Dilansir dari IDSA, pasien dengan kemoterapi aktif, transplantasi organ, atau penggunaan obat imunosupresif dosis tinggi perlu konsultasi terlebih dahulu untuk menentukan waktu pemberian yang paling tepat.

Dalam praktik klinis, sebagian besar orang tetap dapat menerima vaksin influenza dengan aman setelah melalui penilaian singkat oleh dokter.

Konsultasi ini bertujuan memastikan vaksin diberikan pada waktu dan kondisi yang paling sesuai dengan keadaan kesehatan individu.

Untuk memastikan keputusan tersebut tepat, dokter biasanya melakukan penilaian singkat sebelum vaksin influenza diberikan.

Bagaimana Dokter Menilai Kelayakan Sebelum Vaksin Influenza

layanan vaksinasi home service di jakarta dan sekitarnya, untuk semua kalangan masyarakat di Indonesia.

Sebelum vaksin influenza diberikan, dokter biasanya melakukan penilaian singkat untuk memastikan vaksinasi aman dan sesuai dengan kondisi Anda saat itu. Proses ini umumnya berupa wawancara medis singkat dan pemeriksaan kondisi terkini. 

Tujuannya bukan untuk mempersulit, tetapi untuk menyesuaikan waktu dan jenis vaksin influenza dengan keadaan kesehatan masing-masing individu.

Berikut beberapa hal yang biasanya ditanyakan atau diperiksa:

1.Riwayat Alergi

Dokter akan menanyakan apakah Anda pernah mengalami reaksi alergi berat, terutama setelah menerima vaksin influenza sebelumnya. Reaksi seperti sesak napas, pembengkakan wajah atau tenggorokan, dan penurunan tekanan darah perlu dicatat secara jelas.

Riwayat alergi terhadap makanan (termasuk telur) atau obat juga akan ditanyakan. Informasi ini membantu dokter menentukan jenis vaksin influenza yang paling sesuai serta tingkat observasi yang diperlukan setelah penyuntikan.

2.Riwayat Vaksin Influenza Sebelumnya

Dokter akan menanyakan kapan terakhir kali Anda menerima vaksin influenza dan apakah ada efek samping yang muncul.

Jika sebelumnya hanya terjadi reaksi ringan seperti nyeri di tempat suntikan atau demam ringan, vaksinasi umumnya tetap dapat dilakukan. Namun, bila pernah terjadi reaksi serius, dokter akan menilai kembali keseimbangan antara manfaat dan risikonya.

3.Kondisi Sedang Demam atau Infeksi Akut

Suhu tubuh dan kondisi umum akan diperiksa. Bila Anda sedang mengalami demam tinggi atau infeksi akut yang cukup berat, vaksinasi influenza biasanya ditunda sementara.

Penundaan ini bertujuan agar respons imun terhadap vaksin influenza lebih optimal dan untuk menghindari kebingungan dalam membedakan efek samping vaksin influenza dengan gejala penyakit yang sedang berlangsung.

4.Riwayat Penyakit Kronis

Dokter akan meninjau apakah Anda memiliki penyakit seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, gangguan paru kronis, atau penyakit ginjal.

Dalam banyak kasus, justru kondisi kronis menjadi alasan kuat untuk vaksinasi karena risiko komplikasi influenza lebih tinggi. Namun, waktu pemberian dapat disesuaikan bila penyakit sedang tidak stabil.

5.Obat yang Sedang Dikonsumsi

Beberapa obat, terutama yang mempengaruhi sistem imun seperti kortikosteroid dosis tinggi, kemoterapi, atau obat imunosupresif lainnya, dapat mempengaruhi respons tubuh terhadap vaksin influenza .

Dokter akan menilai apakah vaksin influenza dapat diberikan saat itu atau sebaiknya dijadwalkan pada waktu tertentu agar efektivitasnya lebih baik.

Secara umum, proses evaluasi ini berlangsung cepat dan terarah. Penilaian sederhana ini membantu memastikan bahwa vaksin influenza diberikan dalam kondisi yang paling aman dan sesuai dengan kebutuhan medis masing-masing individu.

Reaksi Normal Setelah Vaksin Influenza

Setelah vaksin influenza diberikan, tubuh mulai membentuk perlindungan terhadap virus yang ditargetkan. Dalam proses ini, sebagian orang dapat mengalami reaksi ringan. Reaksi tersebut biasanya merupakan tanda bahwa sistem kekebalan sedang bekerja.

Reaksi lokal di area suntikan adalah yang paling sering terjadi, seperti:

  • Nyeri atau rasa tidak nyaman
  • Kemerahan ringan
  • Bengkak kecil

Keluhan ini umumnya muncul dalam 24 jam pertama dan membaik dalam 1–3 hari. Istirahat cukup dan kompres dingin biasanya sudah memadai.

Sebagian orang juga dapat merasakan gejala ringan seperti:

  • Demam ringan
  • Pegal atau nyeri otot
  • Rasa lelah
  • Sakit kepala ringan

Keluhan ini umumnya mereda dalam beberapa hari tanpa penanganan khusus. 

Kondisi ini berbeda dengan influenza sebenarnya, yang umumnya menimbulkan demam tinggi dan gejala lebih berat, serta juga berbeda dengan penyakit tangan, kaki, dan mulut yang sering disebut Flu Singapura. 

Untuk memahami perbedaan dengan vaksin Flu Singapura (HFMD), Anda dapat membaca penjelasan lengkapnya pada panduan terkait.

Efek Samping Ringan yang Umum

Efek samping ringan setelah vaksin influenza umumnya tidak sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada anak-anak, reaksi yang muncul bisa berupa rewel sementara atau sedikit penurunan nafsu makan, dan biasanya akan membaik dengan sendirinya.

Pada orang dewasa, rasa tidak enak badan ringan bisa muncul dalam 1–2 hari pertama. Keluhan ini biasanya membaik sendiri tanpa penanganan khusus.

Perlu dipahami bahwa vaksin influenza yang digunakan tidak mengandung virus hidup yang dapat menyebabkan penyakit influenza. Karena itu, vaksin tidak menyebabkan influenza, meskipun beberapa orang mungkin merasakan keluhan ringan setelah penyuntikan.

Sebagian besar reaksi ini bersifat ringan dan tidak mengganggu aktivitas jangka panjang.

Gejala yang Perlu Evaluasi Medis

Meskipun jarang terjadi, beberapa kondisi memerlukan perhatian medis lebih lanjut. Evaluasi dianjurkan apabila muncul:

  • Demam tinggi (misalnya di atas 39°C) yang tidak membaik dalam 2–3 hari
  • Reaksi alergi seperti ruam menyeluruh, pembengkakan wajah atau bibir, sesak napas
  • Nyeri hebat atau pembengkakan yang semakin memburuk di lokasi suntikan
  • Gejala neurologis yang tidak biasa, seperti kelemahan mendadak atau kesemutan progresif

Kondisi tersebut jarang terjadi, tetapi penting untuk dikenali agar penanganan dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.

Kapan Sebaiknya Kembali ke Dokter?

Sebagian besar individu tidak memerlukan kunjungan ulang khusus setelah vaksin influenza. Namun, konsultasi dianjurkan jika:

  • Gejala tidak membaik setelah beberapa hari
  • Muncul keluhan yang terasa tidak biasa dibandingkan pengalaman vaksin sebelumnya
  • Terdapat penyakit kronis yang tiba-tiba memburuk setelah vaksin

Apabila muncul reaksi alergi berat dalam waktu singkat setelah penyuntikan, segera cari pertolongan medis darurat.

Secara umum, vaksin influenza memiliki profil keamanan dan efek samping vaksin influenza yang telah dipelajari secara luas dan digunakan di berbagai negara, termasuk Indonesia. 

Penjelasan lebih rinci mengenai dosis dan karakteristik vaksin dapat dibaca pada panduan khusus yang membahas topik tersebut secara lebih mendalam.

Pemantauan gejala setelah vaksin bertujuan memastikan setiap respons tubuh ditangani dengan tepat. Artinya, risiko tetap diperhatikan dengan baik, tetapi tanpa menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan.

Secara ringkas, vaksin influenza umumnya dianjurkan bagi kelompok berisiko tinggi, sementara individu dengan kondisi tertentu perlu evaluasi terlebih dahulu.

 

Sumber Referensi:

 

Artikel ini telah ditinjau oleh:

dr. Axel Jusuf

dr. Axel Jusuf

Artikel Lainnya