“Ah, Mama di rumah terus, memangnya perlu vaksin?”
Banyak keluarga mulai mengucapkan kalimat seperti itu saat membahas vaksinasi untuk orang tua.
Keluarga sebenarnya bukan tidak peduli. Banyak orang merasa logikanya masuk akal: kalau lansia lebih sering di rumah, risiko tertular penyakit pasti kecil.
Selain itu, banyak keluarga khawatir tubuh lansia tidak cukup kuat menerima vaksin.
Banyak keluarga memang memiliki dua kekhawatiran tersebut. Namun, banyak keluarga sering melewatkan satu hal penting saat mempertimbangkan vaksin lansia.
Kalau Orang Tua Jarang Keluar Rumah, Masih Ada Risiko Tertular?
Ya, lansia tetap memiliki risiko tertular infeksi. Bahkan, anggota keluarga di rumah sendiri sering menjadi sumber paparan yang paling dekat.
Banyak lansia memang jarang bepergian ke luar rumah. Namun, cucu yang baru pulang sekolah, anak yang bekerja di kantor, caregiver, atau tamu yang datang sebentar tetap bisa membawa virus tanpa disadari.
Flu termasuk penyakit yang sangat mudah menular, bahkan ketika orang hanya berinteraksi singkat di ruangan yang sama.
Menurut dr. Patricia Vina Suriani, dokter cukup sering menemukan miskonsepsi seperti ini di klinik. Banyak keluarga menganggap risiko infeksi hanya tinggi ketika lansia sering bepergian keluar rumah.
Padahal, anggota keluarga yang aktif beraktivitas di luar rumah setiap hari sering membawa paparan infeksi ke rumah.
Rumah memang memberikan banyak perlindungan untuk lansia. Namun, perlindungan tersebut tetap tidak dapat menutup seluruh risiko paparan infeksi.
Vaksin Apa Saja yang Sering Masih Terlewat pada Lansia?
Banyak lansia ternyata belum menerima beberapa vaksin penting sekaligus. Keluarga biasanya memiliki alasan berbeda saat menunda setiap vaksin tersebut.
Banyak keluarga sering mengabaikan vaksin influenza untuk lansia karena mereka menganggap flu sebagai penyakit ringan yang bisa sembuh sendiri. Padahal, flu pada usia lanjut sering terasa lebih berat dan membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama.
Banyak lansia juga belum melengkapi vaksin pneumonia atau vaksin pneumokokus. Banyak keluarga belum memahami bahwa dokter sangat menganjurkan vaksin ini untuk lansia.
Dokter juga merekomendasikan vaksin herpes zoster untuk membantu menurunkan risiko cacar api pada lansia. Banyak lansia belum pernah menerima vaksin ini meski risiko cacar api meningkat seiring bertambahnya usia.
Belakangan ini, dokter juga semakin sering membahas vaksin RSV untuk lansia. Pada usia di atas 60 tahun, infeksi saluran napas bawah akibat RSV dapat berkembang lebih serius sehingga dokter mulai mempertimbangkan vaksin ini untuk kelompok usia lanjut.
| Vaksin | Penyakit Dicegah | Alasan Sering Terlewat |
|---|---|---|
| Influenza | Flu | Dianggap “flu biasa” |
| Pneumokokus | Pneumonia | Tidak tahu dianjurkan |
| Herpes Zoster | Cacar api | Belum pernah diberikan |
| RSV | Infeksi saluran napas | Infeksi bisa serius |
Menurut dr. Patricia Vina Suriani, pasien lansia yang datang ke klinik paling sering belum melengkapi vaksin influenza, pneumokokus, herpes zoster, dan RSV.
Bukan karena vaksinnya tidak tersedia, tapi karena banyak keluarga memang tidak pernah mendapat informasi bahwa daftar vaksin untuk orang tua berbeda dengan vaksin anak.
Kalau Ada Diabetes, Hipertensi, atau Jantung, Justru Makin Perlu Vaksin?
Justru pada lansia dengan kondisi seperti itu, vaksin sering kali menjadi semakin penting untuk dipertimbangkan, bukan sebaliknya.
Komorbid seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, paru, atau gangguan ginjal biasanya tidak otomatis membuat vaksin dilarang. Kondisi-kondisi tersebut justru bisa meningkatkan risiko komplikasi kalau lansia sampai terkena infeksi.
Flu pada orang tua dengan diabetes, misalnya, bisa berkembang lebih berat dan memperlambat pemulihan. Begitu juga pneumonia pada lansia dengan penyakit jantung yang risikonya bisa jauh lebih serius dibanding pada usia muda.
Menurut dr Patricia Vina Suriani, vaksin bukan bertujuan membebani tubuh, tetapi memberi perlindungan tambahan agar tubuh lebih siap menghadapi infeksi.
Tentu saja, keputusan vaksinasi tetap perlu melalui assessment medis individual. Dokter akan menyesuaikannya dengan kondisi kesehatan masing-masing lansia, bukan memakai satu keputusan yang sama untuk semua orang.
Ada beberapa kondisi yang biasanya membuat vaksin lansia sebaiknya tidak terlalu lama ditunda. Misalnya ketika lansia memiliki komorbid, daya tahan tubuh mulai menurun, sering kontak dengan anggota keluarga yang aktif di luar rumah, tinggal bersama caregiver, atau waktu pemulihan setelah sakit terasa semakin lama.
Kalau orang tua Anda termasuk dalam salah satu kondisi tersebut, bukan berarti harus langsung menerima semua vaksin saat itu juga. Tapi kondisi itu cukup menjadi alasan untuk mulai mendiskusikannya bersama dokter.
Untuk keluarga yang orang tuanya sulit bepergian ke klinik, layanan Vaksinasi di Rumah dari Vaxine Care juga memungkinkan proses evaluasi dan vaksinasi dilakukan langsung di rumah dengan lebih nyaman.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Kalau orang tua sudah lama nggak vaksin, harus mulai dari mana?
Biasanya langkah pertama bukan langsung “suntik semua”, tapi cek dulu riwayat vaksin dan kondisi kesehatannya sekarang. Dari situ dokter bisa lihat mana yang memang belum pernah, mana yang perlu diulang, dan mana yang paling prioritas duluan. Cara ini lebih aman dan lebih enak buat keluarga juga, karena jadwalnya bisa disesuaikan.
Kalau orang tua punya riwayat alergi, masih bisa vaksin nggak?
Bisa saja, tapi perlu ditanya dan dievaluasi dulu dengan lebih teliti. Riwayat alergi itu luas, jadi penting dibedakan apakah alerginya ringan, pernah berat, atau terkait bahan tertentu. Dokter biasanya akan menilai dulu sebelum menentukan vaksin mana yang aman diberikan.
Vaksin lansia itu perlu diulang tiap tahun atau cukup sekali seumur hidup?
Tergantung jenis vaksinnya. Ada yang memang perlu booster atau ulang berkala, seperti influenza, sementara yang lain jadwalnya bisa lebih panjang atau cukup beberapa dosis saja. Karena tiap vaksin beda, paling aman kalau jadwalnya disusun berdasarkan riwayat vaksin sebelumnya.
Kalau orang tua kelihatan sehat, apakah tetap perlu dipertimbangkan vaksin?
Tetap perlu dipikirkan, karena kelihatan sehat belum tentu risikonya rendah. Pada usia lanjut, daya tahan tubuh bisa menurun pelan-pelan meski aktivitas sehari-hari masih bagus. Kalau ada kontak rutin dengan anak cucu, caregiver, atau orang rumah yang sering beraktivitas di luar, perlindungannya justru makin relevan.
Sumber Referensi:
- CDC, diakses pada Mei 2026, Shingles Vaccination
- CDC, diakses pada Mei 2026, Vaccines by Age
Artikel telah ditinjau oleh:





